Category Archives: News

SGM Luncurkan Kampanye Program Makan Sehat untuk Anak PAUD

sgm

Kita mengenal tahun emas pertumbuhan anak adalah pada lima tahu pertama. Di masa ini penting memperhatikan asupan yang seimbang agar pertumbuhan anak tumbuh optimal. Generasi yang tumbuh optimal dan cerdas tentu sangat penting bagi bangsa ini karena ditangan mereka lah masa depan bangsa ini berada. Apalagi ditemui kenyataan, asupan sayur dan buah pada anak usia dini makin tidak memenuhi porsi makan sehat.

Mengutip Peraturan Kementerian Kesehatan RI No 41 tahun 2014 bahwa porsi buah dan sayur sekali makin harus cukup 50 persen. Sayangnya data hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) di tahun 2007 dan 2013 menunjukkan prevalensi perilaku masyarakat Indonesia yang mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah kurang, stagnan pada kisaran angka 93,5-93,6 persen. Sangat rendah. Maka itulah diperlukan dukungan semua pihak memperbaiki pola makan masyarakat yang tidak seimbang itu, melalui edukasi konsumsi buah dan sayur sejak dini.

Peduli akan hal ini, PT Sarihusada Generasi Mahardhika melalui susu pertumbuhan SGM Eksplor dengan Buah & Sayur meluncurkan program Kebiasaan Makan Sehat pada anak usia dini dengan nama kampanye PAUD Healthy Eating Habit. PAUD adalah Pendidikan Anak usia Dini, yang merupakan program pendidikan dasar anak dibawah lima tahun. Ini merupakan rangkaian program meliputi penyediaan makanan bergizi, buah-buahan dan sayur mayor, serta susu pertumbuhan SGM Eksplol Buah&Sayur bagi anak didik di PAUD. Ada enam PAUD sekitar Jabodetabek sebagai tahap awal.

Anna Surti Ariani, S.Psi. M.Si, psikolog, menuturkan, kurangnya asupan buah dan sayur itu bisa jadi justru karena feeding styles atau cara pemberian makan oleh orang tua yang salah. “Orang tua yang memaksakan makan buah dan sayur itu justru membuat anak trauma dan sikap orang tua yang terlalu mudah menyerah saat anaknya menolak buah dan sayur pun membuat anak akhirnya tidak biasa makan seimbang. Penting bagi orang tua memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan cara pemberian makan yang tepat bagi anak,” ujarnya.

Untuk itulah program PAUD Healthy Eating Habit ini hadir. Selain di enam PAUD Jabodetabek terpilih untuk kampanye ini, Diana Beauty, Brand Manager SGM Eksplor Buah & Sayur menuturkan agar kampanye makan seimbang buah dan sayur lebih meluas, program ini menggunakan media sosial melalui Facebook Fanpage SGM dan Youtube. “Di PAUD kami memperkenalkan snack dari buah dan sayur, kegiatan menanam sayur, memperkenalkan buah dan sayur melalui dongeng, gerak dan lagu agar anak-anak pun senang,” ujar Diana. Selain itu para orang tua murid PAUD pun mendapat edukasi tentang feeding style yang tepat.

Diana menegaskan meski SGM memiliki varian produk susu SGM Eksplor Buah & Sayur, bukan berarti asupan dan kebutuhan akan buah dan sayur bisa digantikan oleh susu ini. “Kebutuhan 50 persen akan buah dan sayur harus dipenuhi, akan lebih maksimal hasilnya jika ditambah minum dua gelas susu se hari,” ujarnya. Minum susu tetap tidak boleh berlebihan. Joris Bernard, Brand Business Unit Director Sarihusada menambahkan, PAUD Healthy Eating Habit Program merupakan bagian dari komitmen pihaknya menjadi mitra bagi orang tua di Indoensia dalam menyediakan nurtisi untuk pertumbuhan anak. “Kami ingin membuktikan bahwa makan buah dan sayur bisa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama dan dengan cara yang tepat,” imbuhnya. Program ini diluncurkan sejak awal September hingga 15 Oktober 2016. Pada puncak acara SGM akan mengajak orang tua terpilih dari keenam PAUD tersebut untuk ikut piknik bersama ke Taman Buah Mekarsari, Bogor.

sumber.

http://swa.co.id/swa/trends/sgm-luncurkan-kampanye-program-makan-sehat-untuk-anak-paud

Telkom Solution Dukung Sektor Pendidikan Indonesia

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melalui Divisi Enterprise Services bekerjasama dengan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyediakan fasilitas Indonesian Research and Education Network (IdREN) di 17 perguruan tinggi.

“Pengembangan IdREN saat ini sudah diimplementasikan pada 17 perguruan tinggi. Hingga akhir tahun 2016 program ini diperluas hingga ke-42 perguruan tinggi,” kata Direktur Enterprise & Business Services Telkom Muhammad Awaluddin beberapa waktu lalu.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof Muhammad Nasir (tengah) bersama Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Prof Intan Ahmad (kiri) dan Direktur Enterprise & Business Services Telkom Muhammad Awaluddin (kanan) berjabat tangan usai penandatanganan nota kesepahaman anatar Telkom dengan Ditjen Belmawa Kemenristekdikti terkait Indonesia Research Education Network (IdREN) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof Muhammad Nasir (tengah) bersama Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Prof Intan Ahmad (kiri) dan Direktur Enterprise & Business Services Telkom Muhammad Awaluddin (kanan) berjabat tangan usai penandatanganan nota kesepahaman anatar Telkom dengan Ditjen Belmawa Kemenristekdikti terkait Indonesia Research Education Network (IdREN) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Children and Technology: Should We Be Concerned?

child at computer

Media technology is here to stay and has become a permanent part of our lives. But there is great concern about how it may be affecting our children. I believe we can learn to embrace its advantages, reduce its adverse effects and raise children who can still relate heart-to-heart with people, appreciate and participate in the beauty and wonders of nature and grow up to be well-rounded, healthy, caring and compassionate adults. The challenge for parents is to understand the benefits and pitfalls of children’s technology use and to help their children create balance in their lives.

Why should we be concerned?

The amount of time children spend using media technology, including computers, cell phones, video games and MP3 players among others, is setting off alarms. The fear is not only that this technology is replacing physical and imaginative play, but that it also may be diminishing development of social skills, heart connection and empathy for others.

Children and teens between ages eight and 18 spend an average of seven hours and 38 minutes daily playing video games, going online and watching TV, and most have no household rules governing how much time they’re allowed to spend doing these things, according to the 2010 study, “Generation M2:  Media in the Lives of 8- to 18-Year-Olds,” conducted by the Kaiser Family Foundation. Add to that the time spent eating, sleeping and attending school during the week, and little time is left for anything else such as playing outside or at the playground with other children, participating in athletics, socializing with friends and family or engaging in afterschool and weekend activities.

Studies over the past decade have concluded that a large number of adolescents and teens today are having difficulty identifying emotions in people, thus creating an inability to feel empathy toward others who may be feeling pain, sorrow, anger and other emotions. There is concern that excessive viewing of real or contrived violence online and/or playing video games that are violent or contain other age-inappropriate content could be numbing the sensitivities of young people, immunizing them from experiencing compassion and caring for others.

I strongly encourage parents and adults to closely monitor children’s media technology habits and the time they spend with media, beginning at an early age and continuing through adolescence and the teen years. It’s important to help children to create a balance between their relationship with technology and activities that nurture their social, emotional and physical skills.

Why should we be encouraged?
 
My philosophy is that technology can also play a role in helping children develop socially and emotionally, when used in balance. Media has helped children care about what is happening on the other side of the world, giving them access to people of different cultures and lifestyles in a click.

Technology is creating common platforms of socialization, exchange of information leading to more understanding and connectedness to the greater whole. Online polls allow teens to participate in social issues. Through blogging, many youths feel they have a voice on different social issues, allowing expression of their perspectives and learning about other people’s perspectives as well. Many are getting involved in online social causes and movements happening worldwide, from saving endangered species to raising money for the homeless.

Video games also offer ways for kids to collaborate, take turns and learn basic principles of teamwork and sharing, while increasing logical thinking, grasping the interrelationship of various inputs and developing motor skills and hand-eye coordination due to movements needed to effectively navigate a mouse or play a video game. New software being designed specifically for classrooms promises to be a remarkable tool for developmental learning and creativity.

Text messaging can also be a developmental tool. Researchers from Coventry University studied 88 children aged between 10 and 12 to understand the impact of text messaging on their language skills. They found that the use of “textisms” could be having a positive impact on reading development and a positive effect on the way children interact with language, rather than harming literacy.

There is also media technology available today designed to significantly enhance social and emotional learning, which is critical to the development and future success of children. HeartMath developed a scientifically validated hardware/software system (emWave®) that teaches children emotion-balancing and coherence skills that can improve their academic performance, relationships with family and friends, heart intelligence and empathy, and even their ability to make wiser choices in their lives.

The technology world is a place for parents and grandparents to interact and communicate with children, even though the learning curve can be a challenge for many of us. It’s important to enter into the world where our children are increasingly spending more and more time. By learning to navigate that world with them, we can better guide them on how to manage themselves and their time within it.

As mindfulness trainer Maya Talisman Frost told TechNewsWorld: “The key to managing kids’ technology use is to establish clear ‘tech-free’ zones,” she explained. “This means recognizing times when the present moment is the priority and technology is given a secondary role. Kids need to learn that there are times when paying attention to those around you is of primary importance, no matter what type of urgent phone calls or instant messages might be coming their way.”

How do you feel about children using technology, and do you have any guidelines with how and when your children use technology?

Read more: http://www.care2.com/greenliving/children-and-technology-should-you-be-concerned.html#ixzz45I2pE1VE

Perkembangan PAUD di Indonesia

Perkembangan PAUD di Indonesia – paud.net. Meskipun masuknya pendidikan PAUD di Indonesia terbilang terlambat dibanding dengan masuknya sejenis pendidikan PAUD ini di Negara lain, namun saat ini Indonesia termasuk Negara yang sudah memiliki perkembangan yang baik mengenai pendidikan anak usia dini ini dibuktikan dengan banyaknya lembaga sejenis yang saat ini mulai bermunculan. Pendidikan anak usia dini di Indonesia sudah dimulai sejak masa sebelum kemerdekaan, semenjak pendirian Frobel School yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk anak-anak mereka. Meskipun yang berhak mengikuti pendidikan ini hanyalah anak-anak bangsa Belanda, Eropa, dan para bangsawan saja, namun seiring dengan berdirinya pergerakan pemuda Budi Utomo, kesadaran mengenai pentingnya pendidikan ini mulai dirasakan oleh masyarakat lainnya.

perkembangan paud indonesia

Berikut penulis akan sajikan beberapa perkembangan PAUD di Indonesia, dimulai dari pendirian lembaga pertama sejenis PAUD oleh persatuan wanita ‘Áisyiyah’.

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia – PAUD.net. Masyarakat kini telah menyadari betapa pentingnya pendidikan yang dilakukan sejak dini, lembaga formal untuk pendidikan sejenis ini pun bermunculan. Dengan tujuan untuk mengoptimalkan proses pertumbuhan dan perkembangan baik itu dalam hal intelektualitas maupun emosional, pemerintahpun meresmikan Pendidikan Anak Usia Dini ini. saat ini lembaga semacam PAUD ini mulai bermunculan dan merambah di Indonesia, baik itu di daerah perkotaan bahkan di daerah pedesaan. Pendidikan anak usia dini memang memerlukan perhatian khusus, karena jalur pendidikan ini merupakan awal pendidikan yang paling berpotensi dalam mengembangkan kemampuan anak (IQ maupun EQ anak).

konsep pendidikan paud di Indonesia

Definisi Anak Usia Dini

Sesuai dengan namanya, pendidikan anak usia dini menurut UU No. 20 bab 1 pasal 1 ayat 14 tahun 2003 merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai anak usia 6 tahun dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk mebantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani maupun rohani agar nantinya anak tersebut memiliki kesiapan menuju pendidikan lebih lanjut. Intinya pendidikan anak usia dini merupakan suatu pendidikan anak yang berusia 0-6 tahun sebagai suatu persiapan dalam memasuki pendidikan formal lanjutan (SD dan setingkatnya). Anak pada usia ini merupakan tahapan anak yang disebut sebagai golden age, yang artinya masa keemasan. Maksudnya adalah masa dimana pertumbuhan dan perkembangan baik otak ataupun tubuh mengalami perkembangan dengan pesat, tentunya pengoptimalan pertumbuhan dan perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh asupan gizi serta stimulasi yang seimbang.