Telkom Solution Dukung Sektor Pendidikan Indonesia

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melalui Divisi Enterprise Services bekerjasama dengan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menyediakan fasilitas Indonesian Research and Education Network (IdREN) di 17 perguruan tinggi.

“Pengembangan IdREN saat ini sudah diimplementasikan pada 17 perguruan tinggi. Hingga akhir tahun 2016 program ini diperluas hingga ke-42 perguruan tinggi,” kata Direktur Enterprise & Business Services Telkom Muhammad Awaluddin beberapa waktu lalu.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof Muhammad Nasir (tengah) bersama Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Prof Intan Ahmad (kiri) dan Direktur Enterprise & Business Services Telkom Muhammad Awaluddin (kanan) berjabat tangan usai penandatanganan nota kesepahaman anatar Telkom dengan Ditjen Belmawa Kemenristekdikti terkait Indonesia Research Education Network (IdREN) di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Prof Muhammad Nasir (tengah) bersama Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti Prof Intan Ahmad (kiri) dan Direktur Enterprise & Business Services Telkom Muhammad Awaluddin (kanan) berjabat tangan usai penandatanganan nota kesepahaman anatar Telkom dengan Ditjen Belmawa Kemenristekdikti terkait Indonesia Research Education Network (IdREN) di Jakarta beberapa waktu lalu.

10 tips menjadi guru PAUD yang kreatif

Menjadi Guru PAUD yang Kreatif
1. Berfikir Inovatif
Jiwa yang kreatif terlahir dari sebuah pemikiran guru yang selalu ingin berinovasi sehingga selalu bervariasi dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didiknya.
2. Percaya Diri
Tentu saja sifat percaya diri dan selalu ingin berkembang ada pada diri guru yang kreatif. Tidak mudah memang menjadi seorang guru yang kreatif, karena karya apapun yang dia ciptakan harus kembali kepada anak didiknya.
3. Tidak Gaptek
Gaptek ( Gagap Teknologi ) bisa menjadi penghambat seorang guru untuk menjadi kreatif. Guru yang kreatif harus peka terhadap perkembangan jaman. Dia bisa mengkombinasikan yang bersifat “kuno” menjadi sesuatu yang menarik. Artinya bisa menggabungkan sesuatu yang kuno dengan yang modern. Misalnya, memvariasikan permainan tradisional dengan permainan modern.
4. Materi Pelajaran yang diberikan menjadi mudah dimengerti.
Tidaklah muah mentransfer ilmu dari seorang guru menuju ke anak didiknya. Namun itulah tantangan yang biasanya dihadapi oleh seorang guru.
Namun seorang guru yang kreatif akan mencoba berbagai cara agar anak didiknya mudah memahami materi pelajaran yang diberikan.
5. Terus Belajar dan Belajar
Tidak ada kata puas untuk seorang guru yang kreatif. Maksudnya suatu guru yang kreatif adalah suatu semangat untuk terus mengembangkan diri demi kebaikan diri sendiri, anak didik dan lembaga.
6. Cerdas Dalam Menemukan Talenta Anak Didiknya
Dengan kepekaan yang dimiliki guru yang kreatif akan berusaha untuk memanfaatkan dan mengembangkan talenta yang dimiliki oleh anak didiknya, misal dengan memberikan kesempatan anak didiknya untuk tampil di acara-acara sekolah.
7. Kooperatif
Seorang guru yang kreatif senantiasa belajar dari orang lain. Dengan kata lain, guru yang kreatif harus dapat bekerja sama dengan sesama guru, anak didik, kepala sekolah, dan pihak-pihak yang berada di lingkungan sekolah.
8. Pandai memanfaatkan “Apa Yang Ada”
Biasanya guru yang kreatif pandai memanfatkan apa yang ada di dalam sekolah. Kertas bekas pun bisa menjadi sarana belajar yang menarik, dan disampaikan dengan cara belajar yang menarik pula.
9. Bisa Menerima Kritik
Sebuah kritik bukanlah sesuatu yang menyakitkan bagi guru yang kreatif. Justru dengan kritiklah bisa belajar dari kekurangannya dan kesalahannya. Dia akan berpikir bagaimana caranya agar kekurangannya bisa diminimalkan atau bahkan menjadi sebuah kelebihan, dan tidak mengulang kesalahan yang sama.
10. Mengajar dengan Cara Menyenangkan
Seorang guru yang kreatif tidak ingin anak didiknya meraa bosan dan tertekan pada saat dia memberikan sebuah materi pelajaran kepada anak didiknya. Maka dia akan selalu mencari cara agar anak didiknya merasa nyaman dengan cara mengajar yang dia berikan.


“Motivasi dan Manajemen PAUD” karangan Yunus Abidin, S.Pd M.Pd. dkk…

diunduh dari laman:


Children and Technology: Should We Be Concerned?

child at computer

Media technology is here to stay and has become a permanent part of our lives. But there is great concern about how it may be affecting our children. I believe we can learn to embrace its advantages, reduce its adverse effects and raise children who can still relate heart-to-heart with people, appreciate and participate in the beauty and wonders of nature and grow up to be well-rounded, healthy, caring and compassionate adults. The challenge for parents is to understand the benefits and pitfalls of children’s technology use and to help their children create balance in their lives.

Why should we be concerned?

The amount of time children spend using media technology, including computers, cell phones, video games and MP3 players among others, is setting off alarms. The fear is not only that this technology is replacing physical and imaginative play, but that it also may be diminishing development of social skills, heart connection and empathy for others.

Children and teens between ages eight and 18 spend an average of seven hours and 38 minutes daily playing video games, going online and watching TV, and most have no household rules governing how much time they’re allowed to spend doing these things, according to the 2010 study, “Generation M2:  Media in the Lives of 8- to 18-Year-Olds,” conducted by the Kaiser Family Foundation. Add to that the time spent eating, sleeping and attending school during the week, and little time is left for anything else such as playing outside or at the playground with other children, participating in athletics, socializing with friends and family or engaging in afterschool and weekend activities.

Studies over the past decade have concluded that a large number of adolescents and teens today are having difficulty identifying emotions in people, thus creating an inability to feel empathy toward others who may be feeling pain, sorrow, anger and other emotions. There is concern that excessive viewing of real or contrived violence online and/or playing video games that are violent or contain other age-inappropriate content could be numbing the sensitivities of young people, immunizing them from experiencing compassion and caring for others.

I strongly encourage parents and adults to closely monitor children’s media technology habits and the time they spend with media, beginning at an early age and continuing through adolescence and the teen years. It’s important to help children to create a balance between their relationship with technology and activities that nurture their social, emotional and physical skills.

Why should we be encouraged?
My philosophy is that technology can also play a role in helping children develop socially and emotionally, when used in balance. Media has helped children care about what is happening on the other side of the world, giving them access to people of different cultures and lifestyles in a click.

Technology is creating common platforms of socialization, exchange of information leading to more understanding and connectedness to the greater whole. Online polls allow teens to participate in social issues. Through blogging, many youths feel they have a voice on different social issues, allowing expression of their perspectives and learning about other people’s perspectives as well. Many are getting involved in online social causes and movements happening worldwide, from saving endangered species to raising money for the homeless.

Video games also offer ways for kids to collaborate, take turns and learn basic principles of teamwork and sharing, while increasing logical thinking, grasping the interrelationship of various inputs and developing motor skills and hand-eye coordination due to movements needed to effectively navigate a mouse or play a video game. New software being designed specifically for classrooms promises to be a remarkable tool for developmental learning and creativity.

Text messaging can also be a developmental tool. Researchers from Coventry University studied 88 children aged between 10 and 12 to understand the impact of text messaging on their language skills. They found that the use of “textisms” could be having a positive impact on reading development and a positive effect on the way children interact with language, rather than harming literacy.

There is also media technology available today designed to significantly enhance social and emotional learning, which is critical to the development and future success of children. HeartMath developed a scientifically validated hardware/software system (emWave®) that teaches children emotion-balancing and coherence skills that can improve their academic performance, relationships with family and friends, heart intelligence and empathy, and even their ability to make wiser choices in their lives.

The technology world is a place for parents and grandparents to interact and communicate with children, even though the learning curve can be a challenge for many of us. It’s important to enter into the world where our children are increasingly spending more and more time. By learning to navigate that world with them, we can better guide them on how to manage themselves and their time within it.

As mindfulness trainer Maya Talisman Frost told TechNewsWorld: “The key to managing kids’ technology use is to establish clear ‘tech-free’ zones,” she explained. “This means recognizing times when the present moment is the priority and technology is given a secondary role. Kids need to learn that there are times when paying attention to those around you is of primary importance, no matter what type of urgent phone calls or instant messages might be coming their way.”

How do you feel about children using technology, and do you have any guidelines with how and when your children use technology?

Read more:

Perkembangan PAUD di Indonesia

Perkembangan PAUD di Indonesia – Meskipun masuknya pendidikan PAUD di Indonesia terbilang terlambat dibanding dengan masuknya sejenis pendidikan PAUD ini di Negara lain, namun saat ini Indonesia termasuk Negara yang sudah memiliki perkembangan yang baik mengenai pendidikan anak usia dini ini dibuktikan dengan banyaknya lembaga sejenis yang saat ini mulai bermunculan. Pendidikan anak usia dini di Indonesia sudah dimulai sejak masa sebelum kemerdekaan, semenjak pendirian Frobel School yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk anak-anak mereka. Meskipun yang berhak mengikuti pendidikan ini hanyalah anak-anak bangsa Belanda, Eropa, dan para bangsawan saja, namun seiring dengan berdirinya pergerakan pemuda Budi Utomo, kesadaran mengenai pentingnya pendidikan ini mulai dirasakan oleh masyarakat lainnya.

perkembangan paud indonesia

Berikut penulis akan sajikan beberapa perkembangan PAUD di Indonesia, dimulai dari pendirian lembaga pertama sejenis PAUD oleh persatuan wanita ‘Áisyiyah’.

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia – Masyarakat kini telah menyadari betapa pentingnya pendidikan yang dilakukan sejak dini, lembaga formal untuk pendidikan sejenis ini pun bermunculan. Dengan tujuan untuk mengoptimalkan proses pertumbuhan dan perkembangan baik itu dalam hal intelektualitas maupun emosional, pemerintahpun meresmikan Pendidikan Anak Usia Dini ini. saat ini lembaga semacam PAUD ini mulai bermunculan dan merambah di Indonesia, baik itu di daerah perkotaan bahkan di daerah pedesaan. Pendidikan anak usia dini memang memerlukan perhatian khusus, karena jalur pendidikan ini merupakan awal pendidikan yang paling berpotensi dalam mengembangkan kemampuan anak (IQ maupun EQ anak).

konsep pendidikan paud di Indonesia

Definisi Anak Usia Dini

Sesuai dengan namanya, pendidikan anak usia dini menurut UU No. 20 bab 1 pasal 1 ayat 14 tahun 2003 merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai anak usia 6 tahun dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk mebantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani maupun rohani agar nantinya anak tersebut memiliki kesiapan menuju pendidikan lebih lanjut. Intinya pendidikan anak usia dini merupakan suatu pendidikan anak yang berusia 0-6 tahun sebagai suatu persiapan dalam memasuki pendidikan formal lanjutan (SD dan setingkatnya). Anak pada usia ini merupakan tahapan anak yang disebut sebagai golden age, yang artinya masa keemasan. Maksudnya adalah masa dimana pertumbuhan dan perkembangan baik otak ataupun tubuh mengalami perkembangan dengan pesat, tentunya pengoptimalan pertumbuhan dan perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh asupan gizi serta stimulasi yang seimbang.