Monthly Archives: November 2015

Mengasah Imajinasi Anak

 

Berkhayal bukan sekadar permainan anak. Khayalan menjadi cara terbaik untuk mengantarkan anak menjadi pemikir kreatif dan pelajar yang baik.

“Mengembangkan kreativitas anak adalah salah satu hal terpenting yang bisa Anda lakukan,” kata Wendy Masi, PhD, dekan Mailman Segal Institute of Childhood Studies di Nova Southeastern University, Fort Lauderdale, penulis Toddler Play. Penelitian baru menunjukkan bahwa kemampuan imajinasi anak (imagination quotient) bisa menjadi faktor yang lebih menentukan keberhasilan akademis dibandingkan intelligence quotient (IQ). “Anda tentu ingin si kecil menjadi pemikir yang cerdas dan mengerti bahwa tidak ada satu jawaban pasti untuk setiap permasalahan,” kata Dr. Masi.

Mencerdaskan anak menjadi tuntutan bagi para orang tua. Sebab, belakangan ini  sekolah cenderung mengutamakan tes. Bahkan kelompok-kelompok bermain pun  lebih menekankan prestasi akademis ketimbang bermain. Mainan yang disebut edukatif untuk anak usia dini atau mainan interaktif, memang sukses menghibur anak-anak tapi tidak merangsang kreativitas mereka. Begitu pula DVD yang dirancang untuk belajar mengenal angka, huruf, atau musik.

”Ada risikonya jika orang tua tidak mengembangkan potensi kreatif anak,” kata Dimitri Christakis, MD, penulis pendamping The Elephant in the Living Room: Make Television Work for Your Kids.American Academy of Pediatrics baru-baru ini menganjurkan para orang tua agar meluangkan lebih banyak waktu untuk bermain bersama anak dan fokus pada mainan seperti dulu yang sederhana.

Permainan menyusun balok dianggap sempurna untuk belajar kreatif, karena memberi keleluasaan kepada anak untuk bebas berkreasi tanpa batasan. Dalam studi yang dilakukan University of Washinton di Seattle, para peneliti memberi balok-balok kayu kepada keluarga yang mempunyai anak batita dan menyarankan untuk dikerjakan bersama sekeluarga. Enam bulan kemudian, batita yang diberi permainan menyusun balok mendapat angka 15 persen lebih tinggi dalam tes kemampuan bahasa dibanding anak yang tidak diberi permainan serupa.

Namun, menyusun balok hanya salah satu cara membebaskan imajinasi anak. Untuk menumbuhkan kreativitas, Anda sendiri perlu berpikir di luar pakem Anda.

 

Siasati jadwal

Luangkan waktu minimal satu jam sehari untuk bermain bersama anak. Jangan mengatur permainan–biarkan anak Anda yang menentukan. “Corbin, 6, dan Lesha, 2, lebih imajinatif jika saya meminta mereka memimpin permainan,” ujar Kaylin Karras, seorang ibu di San Antonio. “Saya singkirkan mainannya dan membiarkan mereka menciptakan permainan sendiri.”

 

Jadilah keluarga berjiwa petualang

Warnai acara makan malam dengan hidangan baru satu kali seminggu. Kunjungi tempat bermain yang berbeda dari biasanya. Ajaklah anak berjalan kaki dan tunjukkan apa yang menarik sepanjang perjalanan. Ketika Anda mendekati hal yang menarik perhatian dengan penasaran, si kecil akan meniru apa yang Anda lakukan.

 

Berkreasi dengan benda-benda biasa

Minta batuan anak mencuci kotak-kotak kecil bekas minuman. Setelah kering, arahkan untuk membangun benteng dengan kotak-kotak itu. Masukkan biji-bijian ke dalam botol dan biarkan ia memainkannya untuk membuat bunyi-bunyian. Atau, buat boneka dari kaus kaki usang. Lihat saja, anak Anda akan mulai berkreasi sendiri.

 

Keluar rumah

Berjalan telanjang kaki menapaki permukaan yang berbeda –rumput basah, trotoar hangat, pasir kering –dan tanyakan kepada anak apa yang dirasakan. Atau, biarkan si petualang kecil mengintip di balik daun dan batu, lalu minta dia mendeskripsikan penemuannya. Jangan lupa membawa kotak untuk menyimpan hasil temuannya untuk proyek seni atau sains di sekolah.

 

Permainan sederhana

Untuk mengurangi intensitas menonton televisi, simpan pesawat teve di dalam lemari tertutup dan sembunyikan remote control. Jauhkan pula dari barang mainan elektronik. Permainan sederhana masih lebih baik: Bermain cilukba dengan bayi Anda, panci atau benda lainnya dijadikan intrumen musik. Kardus bekas televisi yang dilubangi bisa digunakan untuk bermain rumah-rumahan atau seolah di dalam bus. Atau,  isi ember plastik dengan air dan siapkan boneka, handuk, dan pakaian bersih sehingga batita Anda bisa berpura-pura memandikan adik bayi.

 

Mendongeng

Mendengar Anda mendongeng menjadi inspirasi bagi anak untuk menciptakan cerita sendiri. Gunakan suara yang berbeda untuk setiap peran. Begitu anak mengenal betul sebuah cerita, biarkan dia mengarang akhir ceritanya. Atau ciptakan sebuah dongeng bersama –Anda memulai dan dia melanjutkannya.

 

Bertingkah konyol

Gunakan mahkota plastik saat Anda mencuci pakaian atau pakailah topi koboi saat berkebun. Ubah suara dan perilaku Anda sesuai kostum yang dikenakan. Melihat Anda ceria akan menyemangati anak untuk mencoba karakter yang berbeda.

 

Sosialisasi

Menginjak usia 2½ tahun, anak Anda sudah siap bermain dengan anak-anak lain, bukan sekadar bertemu. Bermain bersama baik untuk mengeksplorasi dunia fantasinya, berbagi mainan, dan menjalin pertemanan. Jangan merencanakan kegiatan lain atau melakukan intervensi kecuali benar-benar diperlukan (misalnya ada anak lain yang kasar).

 

Mengenalkan seni

Mengajak anak pergi ke museum akan menumbuhkan semangat anak untuk menggambar atau melukis karyanya sendiri. Sementara musik dapat membangkitkan jiwa kreatif dalam diri anak. Ketika anaknya tampak mengalami masalah untuk beradaptasi di kelas yang baru, Ana Debonis melihat putranya semakin sering bernyanyi dan bermain dengan gitar mainannya. “Ini membantu dia untuk mengatasi stres,” ujar Ana, seorang ibu dari Silver Spring, Maryland.

 

Cermat memilih kelompok bermain

Tidak ada salahnya mengajarkan membaca dan berhitung kepada anak usia 4 tahun. Namun, perhatikan materi yang paling banyak diberikan dalam kurikulum kelompok belajar (preschool). “Anak usia dini lebih baik ditempatkan dalam lingkungan belajar yang berangkat dari permainan,” kata David Elkind, Ph.D., penulis The Power of Play. Pastikan anak mempunyai banyak pilihan –seperti aktivitas seni, bermain puzzle, atau membangun kastil. Dan, tanyakan kepada guru tentang filosofinya. Ia sebaiknya tidak ikut campur dan mengatur kecuali si anak meminta bantuannya.

 

Mengendalikan emosi

Ketika Franny Perl, 6 tahun, menumpahkan es krim yang tertiup angin kencang di tepi pantai, ibunya, Erika, justru menciptakan istilah baru: badai es krim. ”Seorang anak datang memberi es krim serupa, tapi yang benar-benar membuat Franny senang adalah istilah ’badai es krim’ dan ia mengatakannya berulang kali,” ujar ibu dari Washington D.C. ini. Dengan gaya humor yang kreatif, Erika menunjukkan kepada putrinya bagaimana cara untuk bangit dari kekecewaan.

 

Membawa mainan ke taman

Taman bermain baik untuk melatih fisik anak, tapi peralatan untuk mengasah kreativitas tidak selalu tersedia. Bawalah kapur berwarna, permainan gelembung sabun, dan alat bermain pasir untuk bermain bersama anak-anak yang lain. Anda juga bisa membawa cat muka dan mengubah mukanya seperti binatang favoritnya, lalu biarkan ia beraksi.

 

Dukung artis cilik Anda

Sediakan area bermain di rumah untuk anak bebas menggambar, melukis, atau berkarya kapan pun ia mau. Beth Lerman mengubah pojok garasi menjadi sebuah studio seni saat putrinya berusia 3 tahun. “Ada meja besar lengkap dengan cat, gulungan kertas putih, glitter, lem, kuas, kapur, spidol, krayon, dan materi lainnya,” kata ibu dari Dallas itu. “Ini tempat favorit Jammie, di sini dia bisa bebas berkreasi bahkan boleh berantakan.”

Dikutip dari:

http://www.parentsindonesia.com/article.php?type=article&cat=kids&id=108

 

Anak dan Gadget: Yang Penting Aturan Main

Image result for anak dan gadget

Tak perlu cemas bila anak suka bermain gadget . Yang penting, terapkan aturan sejak dini dan perlakukangadget  hanya sebagai alternatif sarana pembelajaran yang berbeda.

Gadget adalah piranti yang berkaitan dengan perkembangan teknologi masa kini. Yang termasuk gadget misalnya tablet, smartphone , netbook , dan sebagainya. Meski gadget bukan interaksi sosial tapi fitur menarik yang ditawarkan seringkali membuat anak-anak cepat akrab dengannya. Tak jarang, gadget dianggap sebagai momok bagi anak. Padahal,gadget  sama dengan benda lainnya yang memiliki dampak positif dan negatif.

Pilih Sesuai Usia

Menurut Jovita Maria Ferliana, M.Psi. , Psikolog dari RS Royal Taruma , dilihat dari tahapan perkembangan dan usia anak, pengenalan dan penggunaan gadget bisa dibagi ke beberapa tahap usia. Untuk anak usia di bawah 5 tahun, “Pemberian gadget sebaiknya hanya seputar pengenalan warna, bentuk, dan suara,” katanya. Artinya, jangan terlalu banyak memberikan kesempatan bermain gadget pada anak di bawah 5 tahun. Terlebih di usia ini, yang utama bukan gadget -nya, tapi fungsi orangtua. Pasalnya gadget hanya sebagai salah satu sarana untuk mengedukasi anak.

Ditinjau dari sisi neurofisiologis, otak anak berusia di bawah 5 tahun masih dalam taraf perkembangan. Perkembangan otak anak akan lebih optimal jika anak diberi rangsangan sensorik secara langsung. Misalnya, meraba benda, mendengar suara, berinteraksi dengan orang, dan sebagainya. Jika anak usia di bawah 5 tahun menggunakan gadget  secara berkelanjutan, apalagi tidak didampingi orangtua, akibatnya anak hanya fokus ke gadget dan kurang berinteraksi dengan dunia luar.

Yang berikutnya, otak bagian depan adalah bagian yang berfungsi memberi perintah dan menggerakkan anggota tubuh lainnya. Di bagian otak belakang, ada yang namanya penggerak. Di bagian ini, terdapat hormon endorfin yang mengatur pusat kesenangan dan kenyamanan. “Pada saat bermain gadget, anak akan merasakan kesenangan, sehingga memicu meningkatnya hormon endorfin. Nah, kecanduan berhubungan dengan ini jika dilakukan dalam jangka waktu lama dankontinyu ,” jelas Jovita. Akibatnya, ke depannya, anak akan mencari kesenangan dengan jalan bermain gadget, karena memang sudah terpola sejak awal perkembangannya.

Dari aspek interaksi sosial, perkembangan anak-anak usia di bawah 5 tahun sebaiknya memang lebih ke arah sensor-motorik. Yaitu, anak harus bebas bergerak, berlari, meraih sesuatu, merasakan kasar-halus. Memang di gadget juga ada pengenalan warna atau games di mana orang melompat. “Namun, kemampuan anak untuk berinteraksi secara langsung dengan objek nyata di dunia luar tidak diperoleh anak. Tentu beda fungsi melompat dengan memencet tombol dengan anak sendiri yang melompat, kan?” papar Jovita.

Beradaptasi dengan Zaman

Sebetulnya, apa saja dampak positif gadget? Yang pertama, gadget akan membantu perkembangan fungsi adaptif seorang anak. Artinya kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitar dan perkembangan zaman. Jika perkembangan zaman sekarang muncul gadget, maka anak pun harus tahu cara menggunakannya.

“Artinya fungsi adaptif anak berkembang,” tutur Jovita. Jadi, seorang anak harus tahu fungsi gadget dan harus bisa menggunakannya karena salah satu fungsi adaptif manusia zaman sekarang adalah harus mampu mengikuti perkembangan teknologi. Sebaliknya, anak yang tidak bisa mengikuti perkembangan  teknologi bisa dikatakan fungsi adaptifnya tidak berkembang secara normal.

Namun, fungsi adaptif juga harus menyesuaikan dengan budaya dan tempat seseorang tinggal. Kalau anak tinggal di sebuah desa dimana gadget adalah barang langka, maka wajar kalau anak tidak tahu dan tidak kenal yang namanya gadget. Nilai positif lain adalah gadget memberi kesempatan anak untuk leluasa mencari informasi. Apalagi anak-anak sekolah sekarang dituntut untuk mengerjakan tugas melalui internet.

Batasi Waktu

“Anak usia di bawah 5 tahun, boleh-boleh saja diberi gadget. Tapi harus diperhatikan durasi pemakaiannya,” saran Jovita. Misalnya, boleh bermain tapi hanya setengah jam dan hanya pada saat senggang. Contohnya, kenalkan gadget seminggu sekali, misalnya hari Sabtu atau Minggu. Lewat dari itu, ia harus tetap berinteraksi dengan orang lain. Aplikasi yang boleh dibuka pun sebaiknya aplikasi yang lebih ke fitur pengenalan warna, bentuk, dan suara.

Tentunya, orangtua harus tetap mendampingi karena justru di usia di bawah 5 tahun, peran orangtua lebih dominan. Fungsi orangtua adalah menjelaskan dan membantu anak mengaitkan antara apa yang ada di gadget dengan apa yang ia lihat di dunia nyata. Misalnya, ketika gadget menampilkan warna merah, maka orangtua mengatakan, “Nah, ini warna merah,” dan seterusnya.

Orangtua juga sebaiknya mengenalkan gadget pada anak mulai usia 4 – 5 tahun. Di bawah usia itu sebaiknya jangan. Pasalnya, di usia ini, neuron saraf seorang anak sedang berkembang dan fungsi radiasi di gadget bisa sedikit menghambat pertumbuhan neoron tersebut.

Sejalan pertambahan usia, ketika anak masuk usia pra remaja, orangtua bisa memberi kebebasan yang lebih, karena anak usia ini juga perlu gadget untuk fungsi jaringan sosial mereka. Di atas usia 5 tahun (mulai 6 tahun sampai usia 10 tahun) misalnya, orangtua bisa memperbanyak waktu anak bergaul dengan gadget . “Di usia ini, anak sudah harus menggali informasi dari lingkungan. Jadi, bolehlah kalau tadinya cuma seminggu sekali selama setengah jam dengan supervisi dari orangtua, kini setiap Sabtu dan Minggu selama dua jam. Boleh main games  atau browsing mencari informasi,” jelas Jovita. Intinya, menurut Jovita, kalau orangtua sudah menerapkan kedisiplinan sedari awal, maka di usia pra remaja, anak akan bisa menggunakan gadget  secara bertanggungjawab dan tidak kecanduan gadget .

Waspada Antisosial

Bermain gadget dalam durasi yang panjang dan dilakukan setiap hari secara kontinyu, bisa membuat anak berkembang ke arah pribadi yang antisosial. Ini terjadi karena anak-anak ini tidak diperkenalkan untuk bersosialisasi dengan orang lain. Ambil contoh dua orang anak usia 5 tahun yang sama-sama tengah menunggu penerbangan bersama orangtua mereka. Salah seorang anak memegang tablet terbaru, sementara yang satunya menghabiskan waktu menunggu jadwal terbang dengan berkeliling di ruang tunggu, berkomunikasi dengan orang baru di sebelahnya, dan mengamati sekitarnya. “Dari sini bisa kita lihat, anak yang tidak memegang tablet akan mendapat lebih banyak pembelajaran secara konkret,” ujar Jovita.

Hindari Kecanduan

Kasus kecanduan atau penyalahgunaan gadget biasanya terjadi karena orangtua tidak mengontrol penggunaannya saat anak masih kecil. “Maka sampai remaja pun ia akan melakukan cara pembelajaran yang sama. Akan susah mengubah karena kebiasaan ini sudah terbentuk,” jelas Jovita. Ini sebabnya, orangtua harus ketat menerapkan aturan ke anak, tanpa harus bersikap otoriter. Dan jangan lupa, orangtua harus menerapkan reward and punishment. Kalau ini berhasil dijalankan, maka anak akan bisa melakukannya secara bertanggungjawab dan terhindar dari kecanduan. Nah, seperti apa ciri-ciri anak yang sudah menunjukkan tanda-tanda kecanduan gadget?

– Anak menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain dengan gadget.

– Anak mengabaikan/mengesampingkan kebutuhan lain hanya untuk bermian gadget. Misalnya lupa makan, lupa mandi.

– Anak mengabaikan teguran-teguran dari orang sekitar.

Hasto Prianggoro

available at:

http://www.tabloid-nakita.com/read/1/anak-dan-gadget-yang-penting-aturan-main