Solusi Computational Thinking untuk Hadapi Pendidikan Global

Dari banyak survei yang dilakukan sejumlah lembaga kredibel internasional, ternyata kondisi sistem pendidikan negara kita kurang ideal, karena masih berada di urutan bawah. Sistem pendidikan di Indonesia saat ini dinilai belum mampu menjawab tantangan masa depan yang penuh persaingan dan kompleks.

“Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar dapat bersaing di era global. Sekolah harus mampu mempersiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global,” kata pakar pendidikan Indra Charismiadji dalam seminar ‘Computational Thinking, A Global Trend in Education- Seminar and Workshop for School Leaders di Jakarta (13/10/2016).

sampoerna-university-swa-ol

Menurut Indra, salah satu cara mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Engineering, and Math), sebuah model pembelajaran populer di dunia yang efektif dalam menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan enjinering.

“Metode STEM mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan 7 keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berpikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar serta berkarier,” jelas Indra.

Saat ini materi kurikulum STEM telah dipersiapkan untuk di sekolah-sekolah dalam negeri. Kurikulum tersebut mengajarkan anak didik tentang ‘computational thinking’. Artinya, bukan sekadar belajar menekan tombol, melainkan belajar memecahkan masalah dengan teknologi atau berpikir layaknya komputer.
“Di Indonesia harus menyadari bahwa dunia pendidikan sangat berubah. Yang tadinya dengan kertas, kapur, dan buku, kini harus mampu menyesuaikan teknologi,” ujar Indra. Itulah sebabnya, sekolah yang menerapkan keterampilan computational thinking akan menjadi barometer bagi sekolah lain dan mampu bersaing dan menjadi pemimpin dalam penerapan pembelajaran abad 21.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Kepala Pengembangan Mahasiswa Sampoerna University, Eddy Henry, menjeaskan, computational thinking merupakan sebuah pendekatan yang diyakini dapat menjadi salah satu solusi dalam menjawab tantangan masa depan, dengan lebih cermat dan terukur.

“Sejauh ini Sampoerna Academy dan Sampoerna University telah mengimplementasikan metode Pendidikan Abad 21 melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts dan Math (STEAM) yang mengedepankan computational thinking,” ucap Eddy mengklaim.

Eddy menjelaskan, pendekatan STEAMi sudah diperkenalkan sejak taman kanak-kanak (TK) dan tingkat sekolah dasar (SD) melalui pengajaran dan permainan yang mendorong mereka untuk mampu memecahkan masalah sederhana.

Nah, untuk tingkat pendidikan menengah hingga perguruan tinggi, siswa akan diberikan tingkat pemecahan permasalahan yang lebih kompleks. Mereka juga diperkenalkan bagaimana memanfaatkan alat bantu seperti komputer dan perangkat digital sesuai tujuannya.

“Saya percaya penerapan computational thinking mampu menyiapkan para siswa untuk menghadapi kebutuhan kerja di masa depan dan meraih kesuksesan di era globalisasi,” tegas Eddy. (***)

Sumber http://swa.co.id/swa/trends/solusi-computational-thinking-untuk-hadapi-pendidikan-global

SGM Luncurkan Kampanye Program Makan Sehat untuk Anak PAUD

sgm

Kita mengenal tahun emas pertumbuhan anak adalah pada lima tahu pertama. Di masa ini penting memperhatikan asupan yang seimbang agar pertumbuhan anak tumbuh optimal. Generasi yang tumbuh optimal dan cerdas tentu sangat penting bagi bangsa ini karena ditangan mereka lah masa depan bangsa ini berada. Apalagi ditemui kenyataan, asupan sayur dan buah pada anak usia dini makin tidak memenuhi porsi makan sehat.

Mengutip Peraturan Kementerian Kesehatan RI No 41 tahun 2014 bahwa porsi buah dan sayur sekali makin harus cukup 50 persen. Sayangnya data hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) di tahun 2007 dan 2013 menunjukkan prevalensi perilaku masyarakat Indonesia yang mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah kurang, stagnan pada kisaran angka 93,5-93,6 persen. Sangat rendah. Maka itulah diperlukan dukungan semua pihak memperbaiki pola makan masyarakat yang tidak seimbang itu, melalui edukasi konsumsi buah dan sayur sejak dini.

Peduli akan hal ini, PT Sarihusada Generasi Mahardhika melalui susu pertumbuhan SGM Eksplor dengan Buah & Sayur meluncurkan program Kebiasaan Makan Sehat pada anak usia dini dengan nama kampanye PAUD Healthy Eating Habit. PAUD adalah Pendidikan Anak usia Dini, yang merupakan program pendidikan dasar anak dibawah lima tahun. Ini merupakan rangkaian program meliputi penyediaan makanan bergizi, buah-buahan dan sayur mayor, serta susu pertumbuhan SGM Eksplol Buah&Sayur bagi anak didik di PAUD. Ada enam PAUD sekitar Jabodetabek sebagai tahap awal.

Anna Surti Ariani, S.Psi. M.Si, psikolog, menuturkan, kurangnya asupan buah dan sayur itu bisa jadi justru karena feeding styles atau cara pemberian makan oleh orang tua yang salah. “Orang tua yang memaksakan makan buah dan sayur itu justru membuat anak trauma dan sikap orang tua yang terlalu mudah menyerah saat anaknya menolak buah dan sayur pun membuat anak akhirnya tidak biasa makan seimbang. Penting bagi orang tua memiliki bekal pengetahuan dan keterampilan cara pemberian makan yang tepat bagi anak,” ujarnya.

Untuk itulah program PAUD Healthy Eating Habit ini hadir. Selain di enam PAUD Jabodetabek terpilih untuk kampanye ini, Diana Beauty, Brand Manager SGM Eksplor Buah & Sayur menuturkan agar kampanye makan seimbang buah dan sayur lebih meluas, program ini menggunakan media sosial melalui Facebook Fanpage SGM dan Youtube. “Di PAUD kami memperkenalkan snack dari buah dan sayur, kegiatan menanam sayur, memperkenalkan buah dan sayur melalui dongeng, gerak dan lagu agar anak-anak pun senang,” ujar Diana. Selain itu para orang tua murid PAUD pun mendapat edukasi tentang feeding style yang tepat.

Diana menegaskan meski SGM memiliki varian produk susu SGM Eksplor Buah & Sayur, bukan berarti asupan dan kebutuhan akan buah dan sayur bisa digantikan oleh susu ini. “Kebutuhan 50 persen akan buah dan sayur harus dipenuhi, akan lebih maksimal hasilnya jika ditambah minum dua gelas susu se hari,” ujarnya. Minum susu tetap tidak boleh berlebihan. Joris Bernard, Brand Business Unit Director Sarihusada menambahkan, PAUD Healthy Eating Habit Program merupakan bagian dari komitmen pihaknya menjadi mitra bagi orang tua di Indoensia dalam menyediakan nurtisi untuk pertumbuhan anak. “Kami ingin membuktikan bahwa makan buah dan sayur bisa menyenangkan jika dilakukan bersama-sama dan dengan cara yang tepat,” imbuhnya. Program ini diluncurkan sejak awal September hingga 15 Oktober 2016. Pada puncak acara SGM akan mengajak orang tua terpilih dari keenam PAUD tersebut untuk ikut piknik bersama ke Taman Buah Mekarsari, Bogor.

sumber.

http://swa.co.id/swa/trends/sgm-luncurkan-kampanye-program-makan-sehat-untuk-anak-paud

MEMBENTUK DAN MANFAATNYA BAGI ANAK USIA DINI

MEMBENTUK DAN MANFAATNYA

A.GAMBARAN UMUM

Tujuan utama mempelajari keterampilan membentuk anak usia dini adalah mengembangkan kecakapan visual dan peningkatan kualitas rasa seni melalui berkarya dan mengamati lingkungan sekitar. Kecakapan visual atau sering disebut intelegensi visual (visual Intelligence) adalah kemampuan menanggapi, dan memahami bentuk secara cepat.

Anak usia dini tumbuh berkembang dari belajar memahami bentuk global sampai pada bentuk-bentuk yang rinci (detail). Kemampuan pemahaman bentuk berkembang seiring dengan perkembangan otak, pikiran dan perasaannya. Manfaat kemampuan memahami bentuk sangat banyak, mulai dari kegunaannya untuk belajar, merasakan hingga menangkap objek secara detail.

Biasanya kemampuan pemahaman anak tentang bentuk jarang diketahui oleh orang tua atau pendidik, sehingga anak hanya mencoba dan mempraktekkannya sendiri.

Untuk mempersiapkan latihan membentuk, anda diminta menyediakan media yang berbentuk liat, cair (liquid) untuk cor seperti lilin panas, padat untuk dipahat seperti sabun atau keras seperti kayu, batu dan mengonstruksi benda-benda limbah dan karton atau kardus bekas pembungkus makanan.

B.PENGERTIAN DAN CAKUPAN MEMBENTUK

Kegiatan membentuk adalah membuat bentuk, baik bentuk terapan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun bentuk-bentuk yang kreatif sebagai karya seni murni. Tujuan kegiatan membentuk pada pendidikan seni rupa untuk anak usia dini adalah (a) melatih pengamatan, (b) melatih kecermatan dan ketelitian, (c) melatih kemampuan ketepatan, (d) melatih kreativitas, (e) melatih kepekaan rasa indah, (f) melatih menggunakan bahan secara ekonomis dan hemat, (g) melatih mengembangkan rasa keterpakaian tinggi, (h) melatih memanfaatkan benda limbah menjadi benda baru untuk permainan, maupun kesenian dan benda-benda terapan.

Isi dan cakupan kegiatan membentul terdiri atas: (a) menyusun atau merangkai, mengonstruksi benda, (b) membutsir, (c) memahat, (d) menempel, (e) melipat, (f) merekayasa bentuk lama menjadi bentuk baru dengan fungsi baru, (g) mencetak dan mengecor.

  1. Konstruksi

Istilah konstruksi dapat diartikan sebagai menyusun komponen-komponen atau benda-benda menjadi suatu kesatuan yang berfungsi praktis maupun seni. Penyusunan benda sebagai komponen ide keseluruhan menggunakan bermacam-macam media dan cara seperti: memberi lem atau perekat, memaku, mengikat, dan menjahit.

  1. Kolase

Kolase atau menyusun benda-benda secara bebas bertujuan untuk melatih kreativitas. Bentuk kolase ini dilakukan dengan tujuan tertentu atau sekedar disusun untuk mencapai keindahan murni.

  1. Memotong dan Menempel

Suatu bentuk yang berisi (ber-ruang) dapat dibuat dengan cara memotong dan menjahit, sedangkan bahan yang berupa kain dapat dijahit kemudian diisi dengan kain perca, kapuk, kapas atau spon/busa. Bentuknya bisa berupa boneka, atau figur binatang ataupun makhluk kreasi. Prosedur pembuatannya pun dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: (a) membuat pola geometris dengan ketepatan ukuran (precission) kemudian disusun dengan menempelkan pola satu persatu sehingga menjadi bentuk utuh, (b) kardus bekas pembungkus makanan seperti mie instan, kotak sabun yang berukuran relatif besar disusun langsung sesuai dengan kreasi pada saat mengerjakan.

  1. Membutsir

Kegiatan membutsir adalah menempel sedikit demi sedikit bahan liat dan lunak menjadi bentuk kasar dan kemudian dibentuk dan diperhalus dengan cara mengurangi atau menambah sehingga lebih terasa padat.

  1. Memahat

Memahat adalah membentuk benda menjadi karya seni atau mainan anak dengan menggunakan pahat. Bahan yang dipahat bisa berupa: kayu, batu atau sabun batangan.

  1. Melipat

Istilah melipat dapat berupa kegiatan meremas bahan kertas kemudian disusun kembali menjadi karya seni rupa tiga dimensi. Melipat sendiri telah dikenal dengan metode origami.

Origami merupakan seni melipat kertas untuk membentuk karya tiga dimensi, dan meremas kertas lalu membentuknya kembali merupakan karya rupa tiga dimensi yang ekspresif. Penyelesaian karya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut: (1) Karya dibiarkan tanpa warna, yaitu warna asli dari warna kertas. (2) Mengeringkan terlebih dahulu karya yang telah dibentuk kemudian diberi warna dengan menggunakan cat.

  1. Mengecor

Kegiatan mengecor ini dapat dilakukan dengan bahan tanah liat, tanah biasa, gips, lilin, dan adonan kue. Prinsip mengecor adalah membentuk dengan membuat klise (model cetakan) terlebih dahulu, klise tersebut dapat berupa model yang sudah ada kemudian diberi bahan tuang seperti yang telah disebutkan. Terdapat 3 macam bentuk klise (1) klise untuk mencetak hilang artinya klise tersebut akan rusak setelah dilakukan pengecoran, misalnya klise tanah dengan menggali langsung ditanah, (2) klise alam seperti kulit buah-buahan yang sederhana. (Contohnya: kulit tanah, atau buah yang dibagi dua). (3) klise tetap yaitu klise yang relatif dibuat untuk mencetak, misalnya klise kue.

C.MANFAAT MEMBENTUK

Lansing menjelaskan bahwa kegiatan membentuk sangat diperlukan bagi pengembangan anak secara menyeluruh. Kegiatan membentuk dimulai dari mengamati benda 3 dimensi, mencoba menirukan dan kemudian mengkreasi. Pada proses mengamati, kegiatan mengamati bentuk 3 dimensi bukan merupakan kegiatan yang mudah terutama bagi anak.

  1. Mengenal Benda di Lingkungan Sekitar

Kenneth M. Lansing (tt) menjelaskan, ketika anak-anak diberi kesempatan memegang tanah liat, karya pertama yang dilakukan adalah membuat pola-pola seperti menggambar. …They begin by pushing, pounding, and breaking the clay for the sheer enjoyment of tactile and kinesthetic sensations.(tt.,146).

Pada masa ini kegiatan melimitasi bentuk masuk ke dalam kegiatan permainannya. Anak mengajak berbicara benda-benda di lingkungan sekitarnya dan kadang dianggapnya seperti teman.

  1. Pengembangan Fungsi Otak dan Rasa

Keterampilan membentuk memerlukan koordinasi mata, tangan, dan rasa yang dimotori oleh kinerja otak. Fungsi otak kanan adalah mengembangkan cara berpikir acak atau tidak teratur dengan rasa atau intuitif serta mampu mengembangkan berpikir abstrak dan holistik. Sedangkan fungsi otak kiri, mengajarkan berpikir sekuensiak, bertahap dan teratur serta linear, sehingga masing-masing bagian pekerjaan menghendaki kinerja yang teratur dan rasional. Koordinasi otak kanan dan kiri tersebut akhirnya mempengaruhi keterampilan yang diperoleh.

  1. Pengembangan Keterampilan Teknis Kecakapan Hidup

Secara tidak sengaja kegiatan pengembangan membentuk yang diberikan kepada anak akan membutuhkan kecakapan yang dapat dipergunakan untuk kebutuhan hidup. Kecakapan ini disebut dengan kecakapan berketerampilan hidup. Selain itu keterampilan membentuk dengan menyusun akan melatih rasa keindahan, akan dapat dipergunakan untuk menyusun atau menata dan mengatur perabot rumah tangga.

MEDIA DAN TEKNIK MEMBENTUK

A.Menyiapkan Bahan dan Peralatan

  1. Was atau Plastisin

Cara menggunakan was atau plastisin adalah dengan cara diremas terlebih dahulu agar bahan menjadi lunak dan lembek namun liat, sehingga bahan ini mudah dibentuk.

  1. Sabun Batangan

Teknik membentuk dilakukan dengan cara mengeruk, mengurangi dengan benda tumpul-pipih atau alat mematung yang disebut dengan sudib. Cara lain untuk membuat lempengan adalah dengan menekan (press) sabun tersebut sehingga berbentuk tipis. Secara tradisional dapat dillakukan dengan memukul-mukul sabun tersebut hingga pipih seperti lempengan dan selanjutnya disempurnakan dengan pijatan tangan secara langsung.

  1. Tanah Liat dan Tanah Keramik

Jika bahan dasar tanah liat tidak dapat dijumpai, pendidik dapat memodifikasi dari bahan abu kayu atau abu gosok. Cara membuat agar abu tersebut menjadi liat adalah mencampurnya dengan lem (kayu atau kertas).

  1. Tepung Gandum

Pertama buatlah adonan terlebih dahulu seperti membuat adonan kue jika akan diselesaikan dengan pengepanan (di masak sesungguhan). Bisa juga hanya berupa adonan dengan pencampuran lem.

  1. Bubur Kertas
  2. Limbah Serbuk Kayu

Serbuk gergaji ini biasanya dibuang atau dimanfaatkan untuk bahan bakar dengan cara dipadatkan terlebih dahulu. Pada kesempatan ini serbuk tersebut akan dibentuk sesuai dengan selera atau dibuat padat agar mudah mengering dengan cara memberi lem kayu atau lem kertas sehingga pada suatu saat mengering.

  1. Cetak dan Cor Lilin

Membuat klise cor berbentuk kepala boneka yang sudah rusak badannya. Sediakan serbuk pasir atau abu gosok yang halus dengan cara menyaring dengan kain kasa atau alat penyaring. Campurkan lem kayu atau lem kertas dan diremas untuk menjadi liat (moulding) dari tanah pasir atau abu gosok. Adonan tadi dicetakkan ke dalam kardus bekas.

  1. Patung Pasir

Bahan pasir adalah media yang paling murah dan mudah, namun hasil pembentukkannya kurang memuaskan. Karya ini mudah rusak dan bentuknya pun kurang tajam (ekstrim). Sedangkan pasir yang digunakan dapat berupa pasir putih yang relatif bersih dan dapat ditempatkan di dalam ruangan khusus. Ruangan atau tempat pasir putih tersebut minimal berukuran 2 x 2 x 0,45 meter dan kegiatan bermain membentuk dengan pasir dapat dilakukan secara berkelompok.

  1. Kertas Bekas

Limbah kertas dapat dimanfaatkan secara langsung dengan cara melipat kertas untuk membentuk binatang, orang, benda-benda patung atau pun kepala boneka atau mangkuk kertas bekas yang diremas.

  1. Batu Kapur

Batu kapur bersifat agak empuk maka cocok untuk media karya bagi anak usia dini. Untuk pembentukannya diperlukan alat yang dapat berupa pisau ukir (pahat) atau menggunakan pisau yang tumpul dengan cara diukirkan. Batu kapur ini sifatnya empuk maka bentuk patungnya sulit untuk dibuat rapi seperti batu hitam yang biasa dibuat patung, karena setiap terbentur benda tumpul batu kapur mudah rontok sedikit demi sedikit.

  1. Kayu

Kayu merupakan media bahan yang sangat umum dipergunakan sebagai bahan pembuatan patung. Kegiatan latihan mematung pada anak usia dini dapat dikelompokkan ke dalam dua teknik, yaitu:

  1. Mematung dengan teknik konstruksi, yaitu mematung dengan cara menyusun potongan kayu yang sudah menjadi potongan-potongan kubus atau sering disebut dengan balok-balok yang terdiri dari persegi panjang, segitiga, kerucut, setengah lingkaran dan lain-lain.
  2. Mematung dengan teknik memahat, yaitu disediakan kayu yang masih berbentuk global, yang nantinya akan dijadikan sebuah patung dengan cara di pahat menggunakan pisau pahat. Pisau pahat yang bisa digunakan bagi anak usia dini (khususnya anak usia 4-6 tahun) tentu berbeda dengan yang oleh pematung (seniman patung), tetapi pisau pahat yang dapat digunakan untuk kegiatan cetak cuki, (seni grafis) yang menggunakan hard bord atau tripleks.
  1. LATIHAN MEMBENTUK

1.Menginterpretasi Bentuk Alam

a.Bahan Padat dan liat

Menginterpretasi dan meniru (mengimitasi) bentuk alam seperti: buah-buahan, binatang dan gunung. Membentuk dengan pelatihan mengimitasi dapat dilakukan dengan menyediakan model atau objek yang akan dimitasi atau dicontoh.

b.Bahan Cair

Model ini menggunakan klise cetak terlebih dahulu, seperti gips, semen atau jenis yang lain yang tidak mudah rusak karena air, dan korosi kimia. Terdapat dua jenis klise cetak cor: a cire perdue, dan klise tetap. Jenis yang pertama sering disebut dengan klise cetak hilang, yaitu sekali dipakai akan rusak. Sedangkan yang jenis klise yang kedua, harus dibuat dan dikerjakan dengan teliti ketepatannya.

2.Menciptakan Bentuk Kreatif

Menciptakan bentuk yang kreatif adalah menciptakan bentuk-bentuk yang lain dari pada yang lain. Anak diminta memilih bahan padat yang akan dibentuk ataupun sekedar menyusun kembali bahan padat yang ada di lingkungan sekitarnya, seperti batu, atau kayu limbah. Untuk itu anak harus jeli memilih bahan yang sesuai dengan jenis dan juga ide serta gagasannya.

3.Membuat Benda Terpakai

Latihan membuat benda terpakai dapat dimulai dari menyusun, merangkai, memodifikasi serta mengecor.

4.Membuat Relief

Jika menggambar adalah menggores dan menghasilkan bentuk dua dimensi, maka membuat relief pada prinsipnya sama, yaitu membuat tinggi rendah bentuk. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi dan memperkaya pengamatan dengan mengembangkan teknik perabaan. Terdapat 2 teknik memmbuat relief: (a) relief rendah yang menekankan gambar berada dibawah permukaan rata-rata, (b) relief tinggi dengan meninggikan gambar sejajar dengan permukaan rata-rata. Adapun tujuan melatih anak membuat relief adalah melatih kepekaan bentuk permukaan, barangkali untuk membantu penglihatan anak yang kurang jelas melihat perspektif.

Diposkan oleh Meli Novikasari

Info Beasiswa Bagi Calon Mahasiswa PG PAUD Universitas Narotama Surabaya

SK YPGP 60 (BEASISWA FKIP)_002

Berikut kami sampaikan informasi terkait dengan Beasiswa bagi guru PG PAUD, TK maupun KB yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S1

Peran Pendidik PAUD Untuk Peningkatan Mutu Pendidikan

Kehadiran guru dalam proses pendidikan masih tetap memegang peranan yang penting. Peran guru dalam proses belajar belum bisa digantikan oleh mesin seperti radio, tape, komputer yang paling canggih sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem, nilai, perasaan, motivasi, kebiasaan, dan lain-lain yang diharapkan merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.

Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam dunia pendidikan. Ruh pen- didikan sesungguhnya terletak dipundak guru. Bahkan, baik buruknya atau berhasil tidaknya pendidikan hakikatnya ada di tangan guru. Sebab, sosok guru memiliki peranan yang strategis dalam ”mengukir” peserta didik menjadi pandai, cerdas, terampil, bermoral dan berpengeta- huan luas. Karena itu, sikap profesionalisme dalam dunia pendidikan (sekolah), tidak sekadar dinilai formalitas tetapi harus fungsional dan menjadi prinsip dasar yang melandasai aksi operasion- alnya. Tuntutan demikian ini wajar karena dalam dunia modern, khususnya dalam rangka persaingan global, memerlukan sumber daya manusia yang bermutu dan selalu melakukan improvisasi diri secara terus menerus. Sehingga dapat dikatakan bahwa tenaga pendidik atau guru merupakan cetak biru (blueprint) bagi penyelenggaran pendidikan. Seorang guru yang baik adalah mereka yang memenuhi persyaratan kemampuan pro- fesional baik sebagai pendidik maupun sebagai pengajar atau pelatih. Di sinilah letak penting- nya standar mutu profesional guru untuk menjamin proses belajar mengajar dan hasil belajar yang bermutu.

Pendidikan bagi anak usia dini juga tidak lepas dari peran pendidik atau guru sebab pada anak usia dini merupakan masa keemasan (golden age) yang sangat mendasar. Di Indo- nesia, dengan hadirnya Permendiknas No. 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), maka pendidikan anak usia dini mendapat perhatian yang serius. Di dalam aturan tersebut juga tercantum standar bagi pendidik dan tenaga kepedidikan bagi AUD.

Salah satu penyebab kegagalan belajar adalah adanya pandangan pendidik bahwa se- tiap anak memiliki gaya belajar yang sama, sehingga tidak menyediakan proses dan menu pembelajaran yang berbeda-beda. Kesadaran pendidik tentang perbedaan untuk mengem- bangkan kecerdasan anak sesuai gaya belajar anak sangat diperlukan. Tanpa hal itu, hanya anak-anak tertentu yang memiliki kecerdasan linguistik-verbal dan logis-matematis yang baik, sementara itu anak-anak yang mempunyai kecerdasan musikal-ritmik, badan-kinestetik, dan naturalis-alam tidak akan berkembang. Padahal dengan bakat dan kecerdasan tersebut bisa lahir pelukis hebat, olahragawan, maestro musik, atau petualang yang hebat. Dengan contoh seperti ini maka pendidikan tidak lepas dari proses serta hasil pendidikan. Jika dalam proses dan hasil pendidikan bisa menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tentunya hal ini dipengaruhi oleh mutu pendidikan yang berhubungan erat dengan pendidiknya.

Oleh: Ratna Wahyu Pusari

Versi lengkap dapat diunduh di:

http://prosiding.upgrismg.ac.id/index.php/FIP13/fip013/paper/viewFile/277/224