Monthly Archives: April 2016

10 tips menjadi guru PAUD yang kreatif

Menjadi Guru PAUD yang Kreatif
1. Berfikir Inovatif
Jiwa yang kreatif terlahir dari sebuah pemikiran guru yang selalu ingin berinovasi sehingga selalu bervariasi dalam memberikan materi pelajaran kepada anak didiknya.
2. Percaya Diri
Tentu saja sifat percaya diri dan selalu ingin berkembang ada pada diri guru yang kreatif. Tidak mudah memang menjadi seorang guru yang kreatif, karena karya apapun yang dia ciptakan harus kembali kepada anak didiknya.
3. Tidak Gaptek
Gaptek ( Gagap Teknologi ) bisa menjadi penghambat seorang guru untuk menjadi kreatif. Guru yang kreatif harus peka terhadap perkembangan jaman. Dia bisa mengkombinasikan yang bersifat “kuno” menjadi sesuatu yang menarik. Artinya bisa menggabungkan sesuatu yang kuno dengan yang modern. Misalnya, memvariasikan permainan tradisional dengan permainan modern.
4. Materi Pelajaran yang diberikan menjadi mudah dimengerti.
Tidaklah muah mentransfer ilmu dari seorang guru menuju ke anak didiknya. Namun itulah tantangan yang biasanya dihadapi oleh seorang guru.
Namun seorang guru yang kreatif akan mencoba berbagai cara agar anak didiknya mudah memahami materi pelajaran yang diberikan.
5. Terus Belajar dan Belajar
Tidak ada kata puas untuk seorang guru yang kreatif. Maksudnya suatu guru yang kreatif adalah suatu semangat untuk terus mengembangkan diri demi kebaikan diri sendiri, anak didik dan lembaga.
6. Cerdas Dalam Menemukan Talenta Anak Didiknya
Dengan kepekaan yang dimiliki guru yang kreatif akan berusaha untuk memanfaatkan dan mengembangkan talenta yang dimiliki oleh anak didiknya, misal dengan memberikan kesempatan anak didiknya untuk tampil di acara-acara sekolah.
7. Kooperatif
Seorang guru yang kreatif senantiasa belajar dari orang lain. Dengan kata lain, guru yang kreatif harus dapat bekerja sama dengan sesama guru, anak didik, kepala sekolah, dan pihak-pihak yang berada di lingkungan sekolah.
8. Pandai memanfaatkan “Apa Yang Ada”
Biasanya guru yang kreatif pandai memanfatkan apa yang ada di dalam sekolah. Kertas bekas pun bisa menjadi sarana belajar yang menarik, dan disampaikan dengan cara belajar yang menarik pula.
9. Bisa Menerima Kritik
Sebuah kritik bukanlah sesuatu yang menyakitkan bagi guru yang kreatif. Justru dengan kritiklah bisa belajar dari kekurangannya dan kesalahannya. Dia akan berpikir bagaimana caranya agar kekurangannya bisa diminimalkan atau bahkan menjadi sebuah kelebihan, dan tidak mengulang kesalahan yang sama.
10. Mengajar dengan Cara Menyenangkan
Seorang guru yang kreatif tidak ingin anak didiknya meraa bosan dan tertekan pada saat dia memberikan sebuah materi pelajaran kepada anak didiknya. Maka dia akan selalu mencari cara agar anak didiknya merasa nyaman dengan cara mengajar yang dia berikan.


“Motivasi dan Manajemen PAUD” karangan Yunus Abidin, S.Pd M.Pd. dkk…

diunduh dari laman:


Children and Technology: Should We Be Concerned?

child at computer

Media technology is here to stay and has become a permanent part of our lives. But there is great concern about how it may be affecting our children. I believe we can learn to embrace its advantages, reduce its adverse effects and raise children who can still relate heart-to-heart with people, appreciate and participate in the beauty and wonders of nature and grow up to be well-rounded, healthy, caring and compassionate adults. The challenge for parents is to understand the benefits and pitfalls of children’s technology use and to help their children create balance in their lives.

Why should we be concerned?

The amount of time children spend using media technology, including computers, cell phones, video games and MP3 players among others, is setting off alarms. The fear is not only that this technology is replacing physical and imaginative play, but that it also may be diminishing development of social skills, heart connection and empathy for others.

Children and teens between ages eight and 18 spend an average of seven hours and 38 minutes daily playing video games, going online and watching TV, and most have no household rules governing how much time they’re allowed to spend doing these things, according to the 2010 study, “Generation M2:  Media in the Lives of 8- to 18-Year-Olds,” conducted by the Kaiser Family Foundation. Add to that the time spent eating, sleeping and attending school during the week, and little time is left for anything else such as playing outside or at the playground with other children, participating in athletics, socializing with friends and family or engaging in afterschool and weekend activities.

Studies over the past decade have concluded that a large number of adolescents and teens today are having difficulty identifying emotions in people, thus creating an inability to feel empathy toward others who may be feeling pain, sorrow, anger and other emotions. There is concern that excessive viewing of real or contrived violence online and/or playing video games that are violent or contain other age-inappropriate content could be numbing the sensitivities of young people, immunizing them from experiencing compassion and caring for others.

I strongly encourage parents and adults to closely monitor children’s media technology habits and the time they spend with media, beginning at an early age and continuing through adolescence and the teen years. It’s important to help children to create a balance between their relationship with technology and activities that nurture their social, emotional and physical skills.

Why should we be encouraged?
My philosophy is that technology can also play a role in helping children develop socially and emotionally, when used in balance. Media has helped children care about what is happening on the other side of the world, giving them access to people of different cultures and lifestyles in a click.

Technology is creating common platforms of socialization, exchange of information leading to more understanding and connectedness to the greater whole. Online polls allow teens to participate in social issues. Through blogging, many youths feel they have a voice on different social issues, allowing expression of their perspectives and learning about other people’s perspectives as well. Many are getting involved in online social causes and movements happening worldwide, from saving endangered species to raising money for the homeless.

Video games also offer ways for kids to collaborate, take turns and learn basic principles of teamwork and sharing, while increasing logical thinking, grasping the interrelationship of various inputs and developing motor skills and hand-eye coordination due to movements needed to effectively navigate a mouse or play a video game. New software being designed specifically for classrooms promises to be a remarkable tool for developmental learning and creativity.

Text messaging can also be a developmental tool. Researchers from Coventry University studied 88 children aged between 10 and 12 to understand the impact of text messaging on their language skills. They found that the use of “textisms” could be having a positive impact on reading development and a positive effect on the way children interact with language, rather than harming literacy.

There is also media technology available today designed to significantly enhance social and emotional learning, which is critical to the development and future success of children. HeartMath developed a scientifically validated hardware/software system (emWave®) that teaches children emotion-balancing and coherence skills that can improve their academic performance, relationships with family and friends, heart intelligence and empathy, and even their ability to make wiser choices in their lives.

The technology world is a place for parents and grandparents to interact and communicate with children, even though the learning curve can be a challenge for many of us. It’s important to enter into the world where our children are increasingly spending more and more time. By learning to navigate that world with them, we can better guide them on how to manage themselves and their time within it.

As mindfulness trainer Maya Talisman Frost told TechNewsWorld: “The key to managing kids’ technology use is to establish clear ‘tech-free’ zones,” she explained. “This means recognizing times when the present moment is the priority and technology is given a secondary role. Kids need to learn that there are times when paying attention to those around you is of primary importance, no matter what type of urgent phone calls or instant messages might be coming their way.”

How do you feel about children using technology, and do you have any guidelines with how and when your children use technology?

Read more:

Perkembangan PAUD di Indonesia

Perkembangan PAUD di Indonesia – Meskipun masuknya pendidikan PAUD di Indonesia terbilang terlambat dibanding dengan masuknya sejenis pendidikan PAUD ini di Negara lain, namun saat ini Indonesia termasuk Negara yang sudah memiliki perkembangan yang baik mengenai pendidikan anak usia dini ini dibuktikan dengan banyaknya lembaga sejenis yang saat ini mulai bermunculan. Pendidikan anak usia dini di Indonesia sudah dimulai sejak masa sebelum kemerdekaan, semenjak pendirian Frobel School yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk anak-anak mereka. Meskipun yang berhak mengikuti pendidikan ini hanyalah anak-anak bangsa Belanda, Eropa, dan para bangsawan saja, namun seiring dengan berdirinya pergerakan pemuda Budi Utomo, kesadaran mengenai pentingnya pendidikan ini mulai dirasakan oleh masyarakat lainnya.

perkembangan paud indonesia

Berikut penulis akan sajikan beberapa perkembangan PAUD di Indonesia, dimulai dari pendirian lembaga pertama sejenis PAUD oleh persatuan wanita ‘Áisyiyah’.

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia – Masyarakat kini telah menyadari betapa pentingnya pendidikan yang dilakukan sejak dini, lembaga formal untuk pendidikan sejenis ini pun bermunculan. Dengan tujuan untuk mengoptimalkan proses pertumbuhan dan perkembangan baik itu dalam hal intelektualitas maupun emosional, pemerintahpun meresmikan Pendidikan Anak Usia Dini ini. saat ini lembaga semacam PAUD ini mulai bermunculan dan merambah di Indonesia, baik itu di daerah perkotaan bahkan di daerah pedesaan. Pendidikan anak usia dini memang memerlukan perhatian khusus, karena jalur pendidikan ini merupakan awal pendidikan yang paling berpotensi dalam mengembangkan kemampuan anak (IQ maupun EQ anak).

konsep pendidikan paud di Indonesia

Definisi Anak Usia Dini

Sesuai dengan namanya, pendidikan anak usia dini menurut UU No. 20 bab 1 pasal 1 ayat 14 tahun 2003 merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai anak usia 6 tahun dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk mebantu pertumbuhan serta perkembangan jasmani maupun rohani agar nantinya anak tersebut memiliki kesiapan menuju pendidikan lebih lanjut. Intinya pendidikan anak usia dini merupakan suatu pendidikan anak yang berusia 0-6 tahun sebagai suatu persiapan dalam memasuki pendidikan formal lanjutan (SD dan setingkatnya). Anak pada usia ini merupakan tahapan anak yang disebut sebagai golden age, yang artinya masa keemasan. Maksudnya adalah masa dimana pertumbuhan dan perkembangan baik otak ataupun tubuh mengalami perkembangan dengan pesat, tentunya pengoptimalan pertumbuhan dan perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh asupan gizi serta stimulasi yang seimbang.

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Pentingnya Pendidikan Anak Usia DiniPentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan adalah merupakan aset penting bagi kemajuan sebuah bangsa, oleh karena itu setiap warga Negara harus dan wajib mengikuti jenjang pendidikan, baik jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah maupun tinggi. Dalam bidang pendidikan seorang anak dari lahir memerlukan pelayanan yang tepat dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan disertai dengan Pemahaman mengenai karakteristik anak sesuai pertumbuhan dan perkembangannya akan sangat membantu dalam menyesuaikan proses belajar bagi anak dengan usia, kebutuhan, dan kondisi masing-masing, baik secara intelektual, emosional dan sosial.

Sebelum bicara lebih jauh, apa sih pendidikan anak usia dini? Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagianak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Mengapa pendidikan anak usia dini itu sangat penting?

Berdasarkan hasil penelitian sekitar 50% kapabilitaas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun,8 0% telah terjadi perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika anak berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika anak berumur 18 tahun, dan setelah itu walaupun dilakukan perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif.

Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Sehingga periode ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, sehingga apabila terlewatkan berarti habislah peluangnya.

Baca juga :  Dampak Penyalahgunaan Narkoba

Menurut Byrnes, pendidikan anak usia dini akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. “Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini,” jelas Byrnes.

Selanjutnya menurut Byrnes, bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini.

Ada dua tujuan mengapa perlu diselenggarakan pendidikan anak usia dini, yaitu:

Tujuan utama: untuk membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Singkatnya, pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Apa perbedaan anak yang mendapatkan pendidikan anak usia dini di lembaga yang berkualitas dengan anak yang tidak mendapatkan pendidikan anak usia dini?

Menurut Byrnes (Peraih gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia) di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar.

Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini, akan lamban menerima sesuatu. Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadinya lamban.